Kepala BMKG Kalteng Sampaikan Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Juli hingga Agustus

Kepala BMKG Kalteng Sampaikan Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Juli hingga Agustus
Foto Ilustrasi Sumber : ig @bmkgkalteng

Palangka Raya, berita4terkini.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggelar kegiatan Diseminasi Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di wilayah Kalimantan Tengah secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (9/3/2026).

Dikesempatan tersebut, Kepala BMKG Provinsi Kalteng Sugiyono menjelaskan bahwa prediksi curah hujan bulanan menunjukkan pada periode Maret hingga Mei 2026 curah hujan di Kalimantan Tengah masih berada pada kategori menengah hingga tinggi.

Namun memasuki Juni hingga Agustus 2026 curah hujan diperkirakan mulai menurun menjadi kategori menengah hingga rendah dengan sifat hujan umumnya berada pada kategori bawah normal hingga normal.

“Awal musim kemarau 2026 di Kalimantan Tengah diperkirakan terjadi pada dasarian III Mei hingga dasarian III Juni dengan sifat musim kemarau berkisar antara bawah normal hingga normal,” ujarnya.

Ia menambahkan, dibandingkan kondisi klimatologis normalnya, musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal sekitar 2–5 dasarian dan memiliki durasi lebih panjang sekitar 2–4 dasarian.

Baca Juga :  Bappedalitbang Kalteng Lakukan Kerjasama dengan LPPM UPR Gelar Focus Group Discussion

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus dengan durasi sekitar 10–13 dasarian atau sekitar tiga hingga empat bulan.

Sugiyono juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk mengantisipasi dampak musim kemarau, di antaranya penyesuaian jadwal tanam serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.

Selain itu, diperlukan peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla, menyiapkan mekanisme respons cepat terhadap penurunan kualitas udara, serta memastikan pengelolaan sumber daya air melalui revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi air, dan ketersediaan air bagi kebutuhan masyarakat serta operasional energi seperti PLTA. (MA)