Bara Api di Gambut Sabaru Belum Padam, Kapolda Kalteng Perkuat Operasi Karhutla

Di lokasi tersebut, personel gabungan masih melakukan pembasahan dan pendinginan lahan untuk mencegah api kembali menyala. Asap yang keluar dari dalam tanah menjadi salah satu persoalan yang harus diantisipasi karena berpotensi terbawa angin hingga ke kawasan perkotaan.
Iwan mengatakan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir tidak terjadi di lokasi kebakaran Desa Sabaru. Karena itu, proses pendinginan lahan belum dapat dihentikan.
“Saat ini anggota sedang melaksanakan pembasahan. Bisa kita lihat masih banyak api-api yang ada di bawah tanah dan juga asap banyak yang mengepul ke atas,” kata Iwan saat berada di lokasi.
Menurut dia, asap yang berasal dari lahan gambut tersebut berpotensi mencapai Kota Palangka Raya jika tertiup angin. Kondisi ini membuat petugas perlu memastikan bara api di bawah permukaan tanah benar-benar padam.
Penanganan karhutla juga diperluas ke wilayah lain yang rawan kebakaran. Polda Kalimantan Tengah memperkuat personel untuk membantu pemadaman di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Menteri Kehutanan dan hasil koordinasi pembagian tugas penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Tengah.
Iwan menyebutkan sebanyak 55 personel gabungan sebelumnya telah berada di kawasan tersebut. Polda Kalteng kemudian menambah 32 personel Brimob yang diperbantukan dari Polda Nusa Tenggara Barat untuk memperkuat operasi pemadaman.
“Di sana sebelumnya sudah ada 55 personel gabungan. Kemudian hari ini saya lakukan penambahan kekuatan dari personel Brimob BKO dari Polda NTB sebanyak 32 personel dan nanti akan bergabung di sana untuk melakukan pemadaman,” ujarnya.
Selain menghadapi kebakaran, petugas di Taman Nasional Tanjung Puting mengalami kendala dalam memperoleh air untuk pemadaman. Menurut laporan Kapolres Kotawaringin Barat kepada Kapolda, pengeboran hingga kedalaman 20 meter belum menghasilkan air bersih.
Material yang keluar dari lubang pengeboran masih berupa lumpur. Akibatnya, petugas harus mengandalkan air sungai yang disalurkan secara estafet menuju titik api.
“Sudah dilakukan pengeboran sampai 20 meter, yang keluar bukan air, tetapi masih berbentuk lumpur. Oleh sebab itu, penanganannya terpaksa harus mengambil air dari sungai dan dilakukan estafet sampai ke titik api,” kata Iwan.
Keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemadaman di kawasan tersebut. Distribusi air dari sungai membutuhkan koordinasi dan tenaga tambahan agar dapat menjangkau lokasi kebakaran.
Polda Kalteng menyatakan penanganan karhutla dilakukan bersama Satgas Karhutla, TNI, Polri, Manggala Agni, dan masyarakat. Selain pemadaman, petugas juga melakukan pembasahan untuk mengurangi risiko munculnya kembali titik api.
Penguatan personel dan koordinasi lintas instansi diharapkan dapat mempercepat penanganan kebakaran, baik di Palangka Raya maupun di kawasan konservasi Tanjung Puting. (red)







