75 Ribu Dokumen Pertanahan Terendam, Kantah Aceh Tamiang Lakukan Evakuasi dan Restorasi Besar-besaran

75 Ribu Dokumen Pertanahan Terendam, Kantah Aceh Tamiang Lakukan Evakuasi dan Restorasi Besar-besaran

Aceh, Berita4terkini.com – Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26–30 November 2025 meninggalkan dampak kerusakan yang luas. Curah hujan ekstrem menyebabkan banjir setinggi 4–5 meter merendam hampir seluruh wilayah, disertai endapan lumpur hingga 2 meter yang menutup permukiman, fasilitas umum, hingga perkantoran.

Salah satu instansi yang terdampak berat adalah Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tamiang. Air bah menerobos masuk hingga melampaui lantai bangunan dan merendam ruang arsip. Sedikitnya 75 ribu buku tanah dan surat ukur terdampak, termasuk warkah dan berbagai dokumen pendukung lainnya.

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Tamiang, Evan Rahmaini, menegaskan bahwa arsip yang terendam bukan sekadar dokumen administrasi. “Itu menyangkut bukti hak masyarakat. Jika rusak atau hilang, maka kepastian hukum warga yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Enam hari setelah banjir melanda, akses menuju kantor mulai terbuka meski masih terbatas. Saat itu, Evan bersama jajaran melihat langsung kondisi kantor yang dipenuhi lumpur setinggi lutut, rak arsip roboh, dan berkas-berkas berserakan. Aliran listrik yang padam total sejak awal bencana turut menghambat proses penyelamatan.

Selama dua pekan pertama, kendaraan belum dapat menjangkau lokasi. Tim hanya bisa berjalan kaki untuk memetakan kerusakan dan menyusun langkah penyelamatan. Prioritas ditentukan dengan memilah dokumen yang paling mendesak untuk dievakuasi serta menyiapkan lokasi aman untuk pemindahan arsip.

Baca Juga :  Gebyar Bazar Adhyaksa 2024, Ini Kata Jaksa Agung ST Burhanuddin

Karena hampir seluruh wilayah Aceh Tamiang terdampak, diputuskan evakuasi arsip dilakukan ke daerah yang lebih aman. Bersama Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh, Arinaldi, arsip dipindahkan ke Kabupaten Langkat, Kota Langsa, dan Banda Aceh untuk menjalani proses pembersihan dan restorasi.

Upaya pemulihan mendapat dukungan dari Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Sekitar 30 taruna dan taruni diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata Pertanahan–Praktik Tata Laksana Pertanahan (KKNP-PTLP) guna membantu proses restorasi.

Arinaldi menyampaikan bahwa hingga saat ini sekitar 10 persen arsip atau kurang lebih 1,9 meter linier telah berhasil dibersihkan. Proses restorasi dilakukan secara bertahap, dengan metode khusus agar dokumen yang terdampak lumpur dan air tetap dapat diselamatkan.

Di tengah keterbatasan sarana dan infrastruktur, Kantah Aceh Tamiang terus berupaya memulihkan pelayanan kepada masyarakat. Meski sementara berpindah lokasi, komitmen untuk menjaga keamanan dokumen negara dan kepastian hukum hak atas tanah warga tetap menjadi prioritas.

Perjuangan ini bukan hanya tentang menyelamatkan arsip, melainkan menjaga kepercayaan publik terhadap layanan pertanahan di tengah ujian bencana. (red/foto:ist)