Ribuan WBP di Kalteng Terima Remisi Nyepi dan Idulfitri 2026, Puluhan Langsung Bebas

Palangka Raya, Berita4terkini.com – Perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026 membawa kebahagiaan tersendiri bagi ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Kalimantan Tengah. Negara memberikan hadiah berupa remisi atau pengurangan masa hukuman, bahkan puluhan di antaranya langsung menghirup udara bebas.
Pemberian remisi dilaksanakan secara serentak di seluruh rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) se-Kalimantan Tengah, Sabtu siang. Secara simbolis, penyerahan dilakukan di Rutan Kelas IIA Palangka Raya, Sabtu (21/03/2026).
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, menyerahkan langsung remisi kepada perwakilan warga binaan yang telah memenuhi persyaratan administratif dan substantif.
Berdasarkan data, sebanyak 121 WBP beragama Hindu menerima remisi Hari Raya Nyepi, sementara 2.865 WBP beragama Muslim mendapatkan remisi Idulfitri. Remisi ini menjadi bentuk penghargaan negara atas sikap baik dan kepatuhan selama menjalani masa pembinaan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 warga binaan dinyatakan langsung bebas setelah masa pidana mereka selesai berkat pengurangan hukuman yang diterima. Momen ini menjadi yang paling dinantikan, terutama saat hari raya yang identik dengan kebersamaan bersama keluarga.
I Putu Murdiana menegaskan bahwa pemberian remisi bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk apresiasi negara kepada warga binaan yang menunjukkan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
“Remisi ini diberikan kepada mereka yang telah memenuhi syarat, berkelakuan baik, serta aktif mengikuti program pembinaan. Harapannya, ini menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri,” ujarnya.
Suasana haru dan bahagia tampak saat proses pembebasan berlangsung. Para petugas turut memberikan ucapan selamat, disertai pesan agar para mantan warga binaan dapat menjalani kehidupan baru yang lebih baik dan tidak kembali terjerumus dalam pelanggaran hukum.
Rasa syukur juga disampaikan oleh para WBP yang langsung bebas. Mereka mengaku tidak menyangka dapat merayakan hari raya di luar lapas, sekaligus bertekad untuk memulai lembaran baru di tengah masyarakat.
Momentum dua hari raya yang berdekatan ini menjadi simbol harapan, bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah dan kembali menjadi bagian dari masyarakat dengan lebih baik. (red)







